A. PENAMAAN SURAT AL-FATIHAH
Surat Al-Fatihah memiliki banyak nama. Tidak kurang dari dua puluh nama yang disandangkan pada
اَلْحَمْدُللهِ أُمُّ الْقُرْآنِ وَ أُمُّ الْكِــتَابِ وَ السَّبْـــعُ الْمَـــثَانِيْ
Artinya: Al-Hamdu Lillah adalah Ummul-Qur’an (Induk Alquran), Ummul-Kitab (Induk Al-Kitab), dan Al-Sab’ al-Matsani (Tujuh ayat yang di ulang-ulang.
Dalam sebuah Hadits Qudsi juga disebutkan, bahwa Allah berfirma:
قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِيْ وَ بَيْنَ عَبْدِيْ نِصْفَيْنِ، وَ لِعَبْدِيْ مَا سَــأَلَ. فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى حَمِدَنِيْ عَبْدِيْ ...
Artinya: Aku membagi Shalat (
Kedua Hadits di atas menyebutkan empat macam nama surat Al-Fatihah, yaitu: Ummul-Kitahb, Ummul-Qur’an, Al-Sab’ al-Matsani, dan Ash-Shalah. Penamaan Al-Fatihah disebutkan dalam Hadits,
لاَ صَلاَ ةَ لِمَنْ لَّمْ يَقْرَأْ بِــفَاتِحَةِ الْكِـــتَابِ (رواه البخاري و مسلم)
Artinya: Tidak ada (tidak sah) shalat bagi yang tidak membaca Fatihah al-kitab (surat Al-Fatihah).
Penamaan surat ini dengan Al-Fatihah (pembuka) karena ia terletak di awal Alquran, sebagai surat pertama dalam susunan Mushhaf Alquran. Sedangkan penamaannya dengan Ummul-Qur’an atau Ummul-Kitab (Induk Alquran/Al-Kitab) adalah karena kandungan ayat-ayat dalam surat Al-Fatihah mencakup kandungan tema-tema pokok semua ayat yang ada dalam keseluruhan Alquran.
Adapun penamaannya dengan Al-Sab’ al-Matasani (tujuh ayat yang berulang-ulang) mengandung dua kemungkinan makna. Pertama, karena ia merupakan satu-satunya surat yang paling banyak diualng-ulang dalam membacanya, terutama dalam shalat. Paling tidak, setiap muslim harus membacanya 17 kali dalam 17 rakaat shalat fardhu. Kedua, penamaan dengan Al-Sab’ al-Matsani karena ayat-ayat dalam surat Al-Fatihah ini dulang-ulang lagi penyebutannya pada surat-surat yang lain dalam Alquran.
Nama-nama lain yang kadangkala juga disandangkan pada surat Al-Fatihah, namun diriwayatkan dari hadits-hadits yang dinilai kurang kuat, adalah: Al-Qur’an al-‘Azhim (Al-Quran yang Agung), Al-Syifa’ Penyembuh), Al-Ruqyah (Mantra), Al-Asas (Pokok/Pangkal), Al-Wafiyah (Yang Memenuhi), dan Al-Kafiyah (Yang Mencukupi) [Al-Qurthuby, I, hal. 12]
B. KANDUNGAN SURAT AL-FATIHAH
Dengan penamaan Ummul-Qur’an/Ummul-Kitab, surat Al-Fatihan mengandung seluruh isi Alquran secara global. Kandungan tersebut secara garis besar tercermin pada ketujuh ayatnya sebagai berikut:[1]
1. Tauhid, terdapat pada ayat kedua dan kelima;
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ dan إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
2. Janji dan Ancaman (Al-Wa’d wa al-Wa’id), terdapat pada ayat keempat;
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
3. Ibadah (Tauhid ‘Ubudiyah), terdapat pada ayat kelima;
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
4. Kebahagiaan dunia dan akhirat serta cara mencapainya, terdapat pada ayat keenam dan ketujuh:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
5. Kisah Umat-umat terdahulu, terdapat pada ayat ketujuh:
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
C. ISTI’ADZAH/TA’AWWUDZ
Isti’adzah atau Ta’awwudz adalah bacaan أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ atau bacaan sejenis lainnya yang mengandung makna mohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan.
Arti pentingnya pembicaraan tentang ta’awwudz sebelum membicarakan
Disyari’atkannya bacaan ini didasarkan pada firman Allah dalam Alquran:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Apabila kamu telah membaca Alquran maka berlindunglah kepada Allah dari gangguan syeithan yang terkutuk (An-Nahl/16: 98)
Dua kalimat (kata) yang digarisbawahi dari ayat di atas menimbulkan dua masalah:
1. Waktu Membaca Isti’adzah
Berdasarkan kata قَرَأْتَ pada
Akan tetapi, menurut pendapat Jumhurul ‘Ulama, bahwa isti’adzah dibaca sebelum membaca Alquran. Pandangan ini sejalan dengan tujuan perintah bacaan isti’adzah, yaitu untuk melindungi diri dari gangguan setan. Sedangkan gangguan setan seringkali merasuki orang yang sedang beribadah (ketika membaca Alquran). Oleh sebab itu, selayaknya isti’adzah dibaca sebelum membaca Alquran. Sebagaimana dapat dipahami dari
Mengenai kalimat قرأت sebagai bentuk fi’il madhi (kata kerja yang menunjukkan masa lampau), diterjemahkan “kamu telah membaca” dapat dianalogikan dengan ayat yang mengandung perintah mendirikan shalat, seperti terdapat dalam
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ …
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu telah mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, … (Q.S. Al-Maidah/5:6)
Berdasarkan pemahaman tekstual ayat ini, berwudhu/membasuh wajah dst. harus dilakukan setelah shalat. Padahal Nabi menyuruh kita berwudhu’ sebelum shalat. Dengan demikian, maka kalimat yang digarisbawahi dari
Ayat lain dalam Alquran yang juga menjadi dasar disyariatkannya membaca ta’awwudz adalah firman Allah sebagai berikut:
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan Maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al-A’raf/7: 200).
Selain dari
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, Maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. Fushshilat/41: 36)
2. Hukum Membaca Isti’adzah, Saat Akan Membaca Alqura
Pada
a. Menurut Imam ‘Atha’ hukumnya wajib, baik di luar shalat maupun di dalamnya; sedangkan ulama yang lain mengatakan tidak wajib.
Pertama karena Nabi selalu membacanya setiap kali akan membaca Alquran; Kedua, bentuk fi’il amr (فاستعذ) pada surat An-Nahl ayat 98 mengandung makna wajib; Ketiga, tujuan membaca ta’awwudz adalah untuk menghidari gangguan setan, dan hal ini adalah wajib. Karena itu membaca ta’awwudz menjadi wajib. Keempat, membaca ta’awwudz merupakan bentuk kehati-hatian (Ihthiyath). Sedangkan berhati-hati itu adalah wajib.
b. Ibnu Sirin dan An-Nakha’i, serta beberapa ulama lainnya membaca ta’awwudz pada setiap raka’at dalam shalat. Hal ini mengikuti bentuk umum perintah membaca ta’awwudz pada ayat di atas. Namun menurut Ibnu Sirin, apabila seseorang membaca ta’awwudz satu kali saja seumur hidupnya maka gugurlah kewajibannya dalam membaca ta’awwudz.
c. Imam Abu Hanifah dan Imam asy-Syafi’i hanya membaca ta’awwudz sebelum Al-Fatihah pada raka’at pertama saja dalam shalat. Karena menurutnya, bacaan ayat-ayat Alquran dalam satu shalat merupakan satu kesatuan bacaan.
d. Imam Malik tidak membaca ta’awwudz sebelum Al-Fatihah dalam shalat fardhu. Beliau hanya membacanya dalam shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan.
3. Lafazh Bacaan Isti’adzah:
a. Berdasarkan redaksi
b. Dalam Hadits riwayat Ahmad disebutkan, bahwa Rasulullah membaca isti’adzah dengan redaksi,
أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم من همزه ونفخه ونفثه
(Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari godaannya, kesombongannya, dan keangkuhannya)
c. Dalam riwayat Sulaiman bin Salim yang dinukil dalam Tafsir Al-Qurthuby disebutkan redaksi sebagai berikut:
أعوذ بالله العظيم من الشيطان الرجيم إن الله هو السميع العليم.
Atau
أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم .
Redaksi yang terakhir ini memadukan
4. Faedah Bacaan Isti’adzah
Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya mengutif beberapa hadits tentang keutamaan membaca isti’adzah. Antara lain:
a. Menghilangkan Amarah:
Sabda Rasulullah Saw.
عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صَرْدٍ قَالَ: اِسْتَبَّ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَعَلَ أَحَدُهُمَا يَغْضَبُ وَ يَحْمَرُّ وَجْهُهُ وَ تَنْتَفِخُ أَوْدَاجُهُ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّيْ لَأُعَلِّمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ ذَاعِنُهُ أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. (رواه البخاري و مسلم)
Artinya:
Dari Sulaiman bin Shard, ia berkata: Dua orang laki-laki bertengkar di hadapan Rasulullah Saw. Salah seorang di antaranya mulai marah dan wajahnya menjadi merah, Nabi melihat kepadanya lalu bersabda, “Aku akan mengajarkan suatu kalimat yang apabila dibaca maka akan hilang (setan) yang mempengaruhinya itu, yaitu bacaan أعوذ بالله من الشيطان الرجيم .
b. Menghilangkan Gangguan Setan:
Sabda Rasulullah Saw.
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِيْ الْعَاصِ الثَّقَفِيَّ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِيْ وَ بَيْنَ صَلاَتِيْ وَقِرَاءَتِيْ يَلْبَسُهَا عَلَيَّ. فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبُ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ وَاتْفُلْ عَنْ يَسَارِكَ ثَلاَثًا. قَالَ: فَفَعَلْتُ، فَأَذْهَبَهُ اللهُ عَنِّيْ. (رواه مسلم)
Artinya:
Dari Usman bin Abi al-Ash al-Tsaqafy, bahwasanya ia mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya setan telah menghalangi antara aku dengan shalat dan bacaanku”. Maka Rasulullah menjawab, “Itulah setan yang bernama Khanzab, kalau kamu merasakan gangguannya, berlindunglah kepada Allah darinya [dengan membaca ta’awwudz] dan (setelah itu) meludah ke samping kiri tiga kali”. Usman berkata:, “Lalu akau melakukannya, dan Allah menjauhkan setan itu dariku”. (H. R. Muslim).
c. Melindungi Diri dalam Perjalanan:
Sabda Rasulullah Saw.
عن ابن عمر قال: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَافَرَ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ اللَّيْلُ قَالَ: “يَا أَرْضُ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّكَ وَمِنْ شَرِّ مَا خُلِقَ فِيْكَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَدُبُّ عَلَيْكَ وَمِنْ أَسَدٍ وَأَسْوَدَ وَمِنَ الْحَيَّةِ وَاْلعَقْرَبِ وَمِنْ سَاكِنِي اْلبَلَدِ وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ”. (رواه أبو داود)
Artinya:
Dari Ibnu Umar, ia berkata: Apabila Rasulullah kemalamam dalam perjalanan, beliau berdo’a, “Wahai bumi! Tuhanmu dan Tuhanku adalah Allah, Aku berlindung kapada Allah dari kejahatanmu, dari kejahatan makhluk yang ada padamu, dari kejahatan binatang melata, dari gangguan singa-singa, ular, dan kalajengking; dari penghuni negeri dan dari induk beserta anak-anaknya. (H. R. Abu Daud)
d. Melindungi Diri dari Gangguan Tidur
ان خالد بنَ الوليدِ قال: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّيْ أَرُوْعُ فِيْ مَنَامِيْ. فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم قل: أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَ عِقَابِهِ وَ شَرِّ عِبَادِهِ وَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّــيَاطِيْنِ وَ أَنْ يَّحْضُرُوْنِِِ (رواه مالك)
Artinya:
Khalid Bin al-Walid mengadu kepada Rasulullah, bahwa dia sering mendapat gangguan (terkejut) dalam tidurnya. Lalu Rasulullah Saw. mengajarkan suatu bacaan ta’awwudz kepadanya, “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, siksa-Nya, kejahatan hamba-Nya, dan dari godaan serta kehadiran setan padaku”. (H. R. Malik)
5. Makna Bacaan Isti’adzah
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم .
Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari Setan yang terkutuk.
أعوذ بالله : Maksudnya, aku mohon kepada Allah agar terhindar dari sesuatu yang tidak disukai, dalam hal ini setan.
الشيطان (Syaithan) secara bahasa berasal dari kata شَطَنَ yang berarti jauh. Pengertian ini mengisyaratkan, bahwa setan adalah suatu sifat atau watak yang jauh dari kebaikan. Atau orang yang memiliki sifat setan selalu berusaha agar orang lain menjauhkan diri dari Allah. Sifat demikian ini bisa ditemukan pada diri manusia dan juga jin. Sebagaimana sabda Rasulullah kepada Abu Dzarr (sahabatnya):
يَا أَبَا ذَرٍّ تَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ شَيَاطِيْنِ الاِنْسِ وَالْجِنِّ. فَقُلْتُ: أَ وَ لِلْإِنْسِ شَيَاطِيْنُ ؟ قَالَ نَعَمْ . (رواه أحمد)
Artinya: “Wahai Abu Dzarr! Berlindunglah kamu dari setan-setan manusia dan jin”. Lalu aku (Abu Dzarr) bertanya, “Apakah ada setan-setan untuk manusia?” Rasulullah menjawab, “Ya”. (H. R. Ahmad)
Manusia atau jin yang dimasuki sifat ini akan berusaha menggoda dan menjauhkan orang lain dari kebaikan. Bahkan para nabi pun tidak luput dari gangguan setan-setan seperti ini. Seperti disebutkan dalam Alquran (Al-An’am/6: 112):
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
Artinya: Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin. Sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lainnya perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
الرجيم : Kata ini merupakan bentuk kata sifat yang mengandung makna isim maf’ul dari akar kata رجم yang berarti melempar, membunuh, dan melaknat. Dengan demikian kata الرجيم mengandung makna yang dilempari, dibunuh, dan dilaknat.. Karena itu dalam bahasa
Berdasarkan makna harfiyah di atas dapat dikemukakan, bahwa bacaan ta’awwudz mengandung arti permohonan seorang hamba kepada Allah agar dirinya terlindungi dari gangguan setan yang terkutuk itu, yang selalu berusaha menghalang-halangi manusia dari perbuatan baik. Seorang hamba yang tidak mendapat perlindungan dari Allah, maka sangat rentan dan mudah terjerumus ke dalam perbuatan keji dan mungkar yang dilarang oleh Allah Swt.
Dalam kaitannya dengan aktifitas membaca Alquran, paling tidak ada dua fungsi yang mengarah pada arti pentingnya bacaan ta’awwudz:
Pertama: Dalam membaca Alquran, seorang qari’ yang sudah bagus bacaannya kadangkala dihinggapi oleh sifat riya’, ‘ujub dan takabbur dengan kemampuannya. Baik ketika ia membaca maupun sesudahnya. Hal demikian dapat menghilangkan keikhlashan niat yang berakibat pada hilangnya nilai pahala.
Di sisi lain, membaca Alquran sebagai Kitabullah semestinya menimbulkan keasyikan tersendiri karena adanya kesadaran akan kesucian (nilai sakral) pada Kitab ini. Namun tidak jarang, seorang qari merasa cepat bosan dan jenuh dalam membaca Alquran karena diganggu semangat dan motifasinya oleh setan yang ingin menjauhkan manusia dari Alquran. Oleh sebab itu, bacaan ta’awwudz dalam hal ini, diharapkan dapat menciptakan keasyikan dan kekhusyu’an dalam membaca Alquran.
Kedua: Tujuan membaca Alquran adalah untuk memahami maknanya agar dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam memahami ayat-ayat Alquran tersebut kadangkala manusia sudah membekali dirinya dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Kepentingan-kepentingan tersebut tidak lain adalah perangkap-perangkap yang dipersiapkan oleh setan. Oleh sebab itu, seorang qari yang tidak mendapat perlindungan Allah dari gangguan setan akan berusaha memahami ayat-ayat yang dibaca sesuai dengan kepentingan pribadi atau golongannya. Sehingga terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam memahami makna atau menafsirkan ayat-ayat Alquran. Penyimpangan demikian ini dapat terjadi pada setiap orang yang berusaha memahami dan menjelaskan isi kandungan Alquran, tidak terkecuali para mufassir kenamaan sekalipun.
سورة الفاتحة
BASMALAH
Kalimat/bacaan بسم الله الرحمــن الرحيم disebut basmalah (بسمــلة) .
1. Kedudukan Basmalah dalam Surat Al-Fatihah
Apakah Basmalah merupakan bagian dari
Perbedaan pendapat terjadi mengenai lafazh basmalah yang terletak di awal
Kelompok I:
Sebagian ulama berpendapat, bahwa basmalah merupakan bagian dari
Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh Imam ‘Ashim, Imam Ibnu Katsir, Imam Al-Kisa’i (dari kalangan Ali Qira’at); Imam Asy-Syafi’i, Imam Ats-Tsauri, Ahmad dan Golongan Syi’ah Imamiah (Kalangan Fuqaha’); Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Abu Hurairah (Kalangan Shahabat); Sa’id bin Jubair, ‘Atho’, Az-Zuhri dan Ibnul Mubarak (kalangan tabi’in), mereka semua sepakat menyatakan, bahwa basmalah merupakan bagian dari surat Al-Fatihah dan surat-surat lainnya dalam Alquran. Hal ini didasarkan pada alasan-alasan sebagai berikut:
a. Dalam mushaf Alquran yang ditulis pada masa Abu Bakar terdapat lafazh basmalah pada setiap awal suratnya. Sementara penulisan tersebut didasarkan pada tulisan-tulisan yang ditulis pada masa Rasulullah dan diperkuat dengan hafalan para sahabat. Hal yang demikian ini mengisyaratkan, bahwa pada masa Rasul pun tulisan surat-surat tersebut, termasuk
Jika pembubuhan basmalah pada masa Rasul itu dianggap sebagai inisiatif para sahabat, hal ini tidak dapat diterima. Sebab, Rasulullah sendiri melarang para sahabatnya menulis sesuatu selain Alquran, dengan sabdanya: لاتكتبوا عنّي غير القرآن. ومن يكتب عني غير القرآن فليمحـه (Jangan kau tulis apa yang kau dengar dariku selain Alquran. Barang siapa yang menulis sesuatu dariku selain Alquran, maka hapuskanlah).
Oleh sebab itu, lafazh آمـين , walaupun Nabi menganjurkan untuk membacanya setelah ولا الضالين, namun tetap tidak dituliskan pada mushaf, karena ia bukan bagian dari
b. Sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a. Ia berkata: “Rasulullah Saw. bersabda;
إذا قرأتم الحمد لله (أي سورة الحمد لله) فاقرءوا بسم الله الرحمن الرحيم فإنها أم القرآن والسبع المثاني و بسم الله الرحمن الرحيم إحدى آياتها (رواه الدار قطني)
(Apabila kamu membaca Alhamdu lillah (surat Al-Fatihah), maka bacalah Bismillah ar-rahman ar-rahim, karena ia (surat Al-Fatihah) itu merupakan inti dari Alquran (Ummul Qur’an) dan Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang (as-sab’ al-matsani); sedangkan Bismillah ar-rahman ar-rahim merupakan salah satu ayatnya. [H.R. ad-Daru Quthni]
c. Hadits lain yang dijadikan landasan oleh kelompok ini ialah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim:
وأخرج مسلم في صحيحه عن أنس رضي الله عنه أنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، "أنزلت عليّ آنفاً سورة فقرأ بسم الله الرحمن الرحيم .
Imam Muslim menyebutkan dalam Kitab Shahihnya, hadits dari Anas r.a. Ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Baru saja turun kepadaku suatu
Kelompok II:
Sekelompok ulama lainnya berpendapat, bahwa basmalah bukan bagian dari
Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Malik, Al-Auza’i, Abu Hanifah (Kalangan Fuqaha); Imam Abu ‘Amr, Imam Ya’qub (Imam-Imam Qira’at); mereka menyatakan, bahwa Basmalah merupakan ayat yang berdiri sendiri, diturunkan untuk menandai pangkal
Alasan yang mereka kemukakan adalah sebagai berikut:
a. Hadits dari Anas:
حديث عن أنس قال: صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ، وَكَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ بِالْحَمْدِ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَا يَذْكُرُوْنَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلاَ آخِرِهَا. (رواه البخاري و مسلم)
Artinya:
Dari Anas, ia berkata: Aku shalat di belakang Rasulullah Saw. bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman; mereka memulai (bacaan shalatnya) dengan Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin. (Dalam redaksi yang dikeluarkan Imam Muslim ditambahkan,) Mereka tidak menyebutkan Bismillahirrahmanirrahim, baik di awal maupun di akhir bacaannya. [H.R. Bukhari & Muslim]. Lihat Tafsir-tafsir Al-Maraghy, Al-Manar dan Al-Baidhawy.
b. Hadits dari ‘Aisyah:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قاَلَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيْرِ وَالْقِرَاءَةِ بِالْحَمْدِ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ . (رواه مسلم)
Artinya:
Dari ‘Aisyah r.a. ia berkata: “Rasulullah Saw. memulai shalatnya dengan takbir [al-ihram] dan bacaan Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin. [H. R. Muslim]
c. Hadits Qudsi,
قَالَ الله ُ عَزَّ وَ جَلَّ: قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِيْ وَ بَيْنَ عَبْدِيْ نِصْفَيْنِ وَ لِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ، فَإِذاَ قَالَ الْعَبْدُ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى حَمِدَنِيْ عَبْدِيْ، وَإِذاَ قَالَ الْعَبْدُ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيْمِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِيْ، وَ إِذَا قَالَ الْعَبْدُ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، قَالَ مَجَّدَنِيْ عَبْدِيْ – وَ قَالَ مَرَّةً أُخْرَى – فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِيْ، فَإِذَا قَالَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِيْ وَ بَيْنَ عَبْدِيْ، وَ لِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ . غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّآلِّيْنَ، قَالَ هّذَا لِعَبْدِيْ وَ لِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ (رواه مسلم)
Artinya:
Allah ‘
Pada hadits ini ayat pertama yang disebutkan adalah Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, bukan Bismillahirrahmanirrahim. Hal ini berarti, bahwa basmalah bukan bagian dari
Kelompok III:
Sekelompok ulama berpendapat, bahwa basmalah merupakan bagian hanya dari
Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Hamzah (Ahli Qiraat dari Kufah). Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.[2]
2. Makna yang Terkandung Dalam Basmalah
بِسْمِ اللهِ
Frase (ungkapan) ini terdiri dari tiga kata, yaitu: بِ (dengan) ِاسْم (nama) dan اللهِ (Allah). Dalam kata بِ (dengan) mengandung satu kalimat yang tersirat – walaupun tidak diucapkan dan tidak tertulis namun makna kalimat itu muncul di dalam benak/pikiran ketika seseorang mengucapkan (membaca) kata بِ (dengan). Kalimat tersebut adalah “aku memulai”. Dengan demikian, ungkapan Bismillah mengandung makna “aku memulai (sesuatu perbuatan) dengan nama Allah.
Jika suatu perbuatan (dalam hal ini membaca Alquran khususnya, dan juga termasuk semua perbuatan pada umumnya) dimulai melakukannya dengan nama Allah, maka hal ini mengandung dua kemungkinan makna: Pertama, perbuatan tersebut dapat terlaksana karena adanya pertolongan Allah. Atau paling tidak, perbuatan tersebut dapat dilaksanakan oleh manusia, karena manusia memiliki kemampuan yang diberikan oleh Allah; kalau tidak, maka perbuatan tersebut tidak dapat dilaksanakan. Kedua, perbuatan tersebut dilakukan atas dasar perintah dari Allah. Karena itu, perbuatan yang diawali dengan Bismillah haruslah perbuatan yang baik. Atau paling tidak, perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Allah. Hal ini berarti, bahwa perbuatan yang dimulai dengan bacaan Bismillah mengandung nilai ibadah (dilakukan karena tunduk dan patuh terhadap perintah Allah). Perbuatan demikian sejalan dengan satu-satunya tugas manusia sebagai hamba Allah ialah “hanya beribadah kepada-Nya” dan “beribadah hanya kepada-Nya”.
الرَّحْمَــنِ الرَّحِيْمِ
Dalam Kitab Alquran dan Terjemahannya yang diterbitkan oleh Departemen Agama RI, بسم الله الرحمن الرحيم diartikan, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. Dalam terjemahan ini kata الرحمن diartikan “Maha Pemurah” dan kata الرحيم diartikan “Maha Penyayang”. Demikian kesan yang muncul ketika kita membaca terjemahan tersebut. Pengertian seperti ini dirasakan masih kurang mewakili makna mufradat dari kedua kata tersebut. Karena keduanya berasal dari akar kata yang sama, yaitu kata yang terdiri dari huruf-huruf ر , ح , م (رَحِمَ – يَرْحَمُ – رَحْمَةً).
Menurut Al-Maraghy, kata rahmah mengandung makna “kondisi mental yang membangkitkan kemauan pemiliknya untuk berbuat baik kepada pihak lain”. Dengan demikian, jika dikatakan Allah memiliki sifat ar-Rahman dan ar-Rahim berarti Allah selalu berkemauan untuk berbuat baik kepada makhluk-Nya; Allah memiliki sifat Kasih-sayang kepada makhluk-Nya.
Perbedaan makna ar-rahman dengan ar-rahim terletak pada ruang lingkup obyek yang dikasih-sayangi-Nya dan kontinyuitas sifat Kasih-sayang tersebut. Karena itu, ar-Rahman berarti Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada seluruh hamba-Nya, baik yang mukmin maupun yang kafir – hal ini terjadi selama hidupnya di dunia; karena di akhirat nanti Allah hanya akan belaskasihan terhadap hamba-Nya yang mukmin, sedangkan hamba-Nya yang kafir akan disiksa. Demikian pula makna ar-Rahim yang berarti Allah Maha Pengasih dan Penyayang, secara terus menerus, langgeng, kepada hamba-Nya yang mukmin mulai dari dunia sampai di akhirat nanti. Sebagaimana dijelaskan dengan firman-Nya:
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Artinya:
Dialah (Allah) yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), sehingga Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan Dia Maha Kasih-sayang kepada orang-orang mukmin (Q.S. Al-Ahzab/33: 43).
Dari penjelasan di atas maka pengertian بسم الله الرحمن الرحيم adalah “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada seluruh hamba-Nya di dunia; juga Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya yang mukmin di akhirat.
3. Makna Kedudukan Basmalah sebagai Awal Alquran:
Pemepatan Basmalah pada bagian awal dari seluruh isi Alquran mengandung makna:
a. Bahwa Allah menurunkan Alquran yang berfungsi sebagai pedoman bagi umat manusia merupakan salah satu bentuk dan bukti kasih sayang Allah kepada manusia, bukan sebagai beban yang memberatkan manusia.
b. Bahwa seluruh isi Alquran – mulai dari
c. Bahwa apabila kita membaca Alquran dan melakukan pengkajian terhadap kandungan isinya berarti kita melakukannya atas dasar perintah Allah Swt. Dengan demikian perbuatan yang kita lakukan bernilai ibadah. Sesuai dengan Hadits Rasulullah:
كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لاَيبُدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ.
(Setiap perbuatan baik yang tidak diawali dengan basmalah akan terputus berkahnya).
الحمد لله رب العالمين
Secara bahasa, kata حَمْدُ berarti pujian (sanjungan) untuk suatu perbuatan baik yang bersumber dari pelakunya sendiri, dengan pilihannya sendiri. Baik pujian tersebut menguntungkan si pemuji maupun tidak. Karena itu, kata حَمْدُ memiliki makna yang lebih luas daripada kata syukur. Kata syukur (شُكْرٌ) juga merupakan pujian (sanjungan); namun sanjungan (pujian) tersebut diberikan kepada terpuji karena adanya sesuatu (nikmat) yang diterima oleh si pemuji. Dalam bahasa Indonesia, ungkapan rasa syukur biasanya diimplementasikan dalam bentuk ucapan terima kasih. Karena itu dalam bahasa Arab ada ungkapan, مَا شَكَرَ اللهَ عَبْدٌ لَمْ يَحْمَدْهُ (seorang hamba yang tidak bersyukur kepada Allah, maka berarti dia tidak memuji-Nya).
Partikel ال(Alif dan Lam) yang menyertai kata حَمْدُ sehingga menjadi الحمد , menurut ahli bahasa mengandung makna استغراق الجنس (Istighraq al-Jins) yang berarti mencakup/meliputi semua jenis. Sehingga kata ‰ôJysø9$# diartikan segala puji atau semua jenis pujian.
Mengenail lafal Allah, terjadi silang pendapat di kalangan para ulama tentang etimologi (asal-usul atau akar kata) lafal ini; apakah ia termasuk isim musytaq atau isim jamid?[1] Bagi kalangan ulama yang berpendapat bahwa lafal Allah adalah isim jamid, berpandangan bahwa kata tersebut tidak terambil dari suatu kata tertentu dalam bahasa Arab, melainkan Ia adalah nama bagi suatu dzat yang wajib wujud-Nya, Pencipta alam semesta ini. Sementara ulama yang berpandangan bahwa lafal Allah adalah isim Musytaq berpendapat bahwa lafal yang mulia (jalalah) ini berasal dari kata Ilāh (الـــه) yang berarti tuhan, mendapat tambahan alif dan lam (ال); sehingga menjadi الالـــه (dibaca al-Ilāh). Kemudian huruf hamzah yang terletak di antara dua huruf lam dihilangkan maka menjadi الله.
Huruf ال (alif dan lam) yang ditambahkan pada lafal الــه menjadikan lafal ini mengandung arti definit[2] (sesuatu yang sudah ditentukan/dikhususkan). Dengan demikian, lafal الله berarti Tuhan yang khusus/dikenal oleh manusia. Dalam bahasa Indonesia, untuk membedakan antara tuhan sebagai makna dari kata الــه yang masih bersifat umum dengan Tuhan sebagai arti kata الله yang sudah dikhususkan, maka penulisan huruf pertama (t) dengan huruf kecil untuk “tuhan” terjemahan dari الــه ; dan (T) dengan huruf besar untuk “Tuhan” sebagai terjemahan dari kata الله .
Lafal الحمد لله diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia dengan, “Segala puji milik Allah.” Penambahan kata “segala” dalam terjemahan ini mengacu pada makna ال yang masuk pada kata حمد. Masuknya ال dalam hal ini menghasilkan faedah makna استغراق الجنس (mencakup semua jenis). Sehingga pujian yang terkandung dalam kalimat الحمد mencakup semua jenis pujian. Baik pujian Tuhan kepada diri-Nya sendiri, pujian Tuhan kepada makhluk-Nya, pujian makhluk kepada Tuhan, dan pujian makhluk kepada sesama makhluk. Semua jenis pujian tersebut pada hakekatnya adalah milik Allah. Dengan kata lain, hanya Allah-lah yang berhak dipuji. Tak ada seorang manusia pun yang berhak untuk dipuji. Oleh sebab itu, jika seseorang melakukan suatu perbuatan dengan tujuan untuk dipuji orang lain (riya’), maka dapat dikatakan sebagai upaya untuk mensejajarkan dirinya dengan Tuhan. Karena itu, menurut Imam al-Ghazali, riya’ termasuk kategori syirik khafi (syirik yang samar).
Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak untuk dipuji dengan sebenar-benarnya. Statemen ini menunjukkan, bahwa lafal الحمد لله mengandung ajaran tauhid. Sedangkan penyimpangan dari ajaran tauhid adalah syirik.
Secara akliah, pernyataan “segala puji milik Allah” mengandung dua konsekwensi makna, yaitu: adanya Allah, dan kelayakan Allah sebagai Dzat yang berhak dipuji. Mengenai masalah pertama (adanya Allah) akan terbukti kebenarannya melalui kajian terhadap makna penggalan ayat rabb al-‘alamin (Tuhan seluruh alam).* Sedangkan masalah kedua (kelayakan Allah sebagai Dzat yang berhak dipuji) akan dilegitimasi kebenarannya dengan tiga sifat yang disandang-Nya, al-Rahman, al-Rahim dan Maliki Yaum al-Din.**
ربّ العالمين
Secara etimologis kata رَبّ berasal dari kata رَبَّى – يُرَبِّيْ – تَرْبِيَّةً yang berarti mendidik, memelihara dan mengayomi. Bentuk isim fa’il dari kata رَبَّى adalah مُرَبِّيٌ . Kemudian huruf mim pada awal kalimat dan huruf ya’ pada akhir kalimat dibuang, sehingga menjadi رَبِّ . Sedangkan kata العالمين merupakan bentuk jamak (plural) dari kata عَالَمٌ, yaitu jenis-jenis makhluk yang memiliki kehidupan. Seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Pemahaman ini sejalan dengan makna kata رَبّ (pendidik/pemelihara), yang berarti bahwa sesuatu yang memerlukan pemeliharaan adalah sesuatu yang memiliki kehidupan. Dengan demikian, kata عَالَمٌ kurang tepat diartikan alam semesta. Karena selain alasan keterkaitannya dengan makna kata rabb, alam semesta dalam Alquran identik dengan makna kata السموات و الارض (langit dan bumi).
Pendidik sebagai makna kata رَبّ mengandung arti, bahwa Allah adalah Dzat yang memelihara, mengayomi dan merawat seluruh alam, makhluk-Nya. Dengan kata lain, Allah sebagai Pendidik selalu berbuat untuk merubah makhluk-Nya dari keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik. Khusus mengenai pemeliharaan atau pendidikan yang diberikan Allah kepada manusia, Al-Maraghy menyebutkan ada dua macam pendidikan:
Pertama, pendidikan dalam bentuk penciptaan (tarbiyyah khalqiyyah); yaitu menumbuhkembangkan fisik manusia, mulai dari janin, menjadi bayi, menjadi anak-anak, menjadi remaja, dewasa bahkan sampai tua. Selain memelihara pertumbuhan fisik, dalam tarbiyyah khalqiyyah juga disertai pemeliharaan perkembangan jiwa dan akal manusia.
Kedua, pendidikan dalam bentuk pengajaran agama yang diberikan Allah melalui para rasul-Nya.
Dengan sifat Allah sebagai pemelihara seluruh alam, maka sangatlah layak menempatkan-Nya sebagai satu-satunya Dzat yang berhak dipuji.
الرحمن الرحيم .
Penjelasan tentang makna sifat Allah ar-Rahmân dan ar-Rahīm ini sudah dikemukakan dalam penafsiran lafal basmalah. Allah memiliki sifat Maha Pengasih kepada seluruh hamba-Nya, tanpa pilih kasih, dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin. Kedua sifat ini memperkokoh keberadaan Allah sebagai satu-stunya Dzat yang layak dipuji.
Dalam kajian Ilmu Qiraat, semua qiraat yang mutawatir (qiraat tujuh) sepakat mengenai bacaan ayat 1 sampai 3
ملك يوم الدين.
Sebagian ahli qiraat membaca lafal ملك dengan memanjangkan huruf mim, sehingga terbaca مَالِكِ . Mereka adalah Imam ‘Ashim (yang qiraatnya dipraktekkan oleh sebagian besar umat Islam di dunia, termasuk
Sedangkan ahli qiraat yang lain, selain dari ketiga imam qiraat tersebut membacanya dengan memendekkan huruf mim (tanpa alif), sehingga terbaca مَلِكِ . Kedua versi bacaan ini adalah bacaan yang shahih dan mutawatir, dari segi keabsahannya dapat dipertanggungjawabkan sebagai bacaan yang pernah diajarkan oleh Nabi Saw.
Perbedaan bacan kedua versi tersebut berakibat pada perbedaan makna. Jika dibaca مَالِكِ, maka artinya Tuhan sebagai pemilik ( ذُو الْمِلْكِ ). Sedangkan kalau dibaca مَلِكِ maka artinya Tuhan sebagai penguasa/raja ( ذُو الْمُلْكِ ) .
Pendapat mufassir yang lain mengatakan sebaliknya, kata ملك lebih mumpuni sebagai sifat Allah. Karena kata ini mengandung dua makna sekaligus, raja (penguasa) dan pemilik. Sedangkan kata مالك hanya mengandung arti memiliki yang belum tentu menguasai. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu al-Hishar.[3]
Terlepas dari kontroversi kedua pendapat tersebut, jika kata مالك/ ملك disandarkan (dimudhafkan) pada kata يوم الدين maka sifat Allah sebagai Pemilik/Penguasa hari pembalasan, mengandung arti bahwa manusia sebagai obyek pembalasan/ganjaran akan dibedakan antara yang berbuat baik dan yang berbuat buruk; dan antara yang thaat dengan yang ingkar/ma’shiat. Pembedaan terhadap dua kelompok manusia ini tentu didasarkan atas keadilan-Nya. Karena, tidak mungkin Tuhan berbuat zhalim terhadap hamba-Nya. Hal ini sesuai dengan janji Allah,
إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ . وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ
Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan. Dan Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka (Q.S. Al-Infithar/82: 13 – 14).
Janji Allah seperti ini pasti akan terjadi, karena Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, seperti disebutkan dalam Alquran: إِنَّ اللَّهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ Sesungguhnya Allah tidak akan menyalahi janji (Q.S. Al-Ra’d/13: 31).
يَوْمِ الدِّيْنِ: Kata al-Din, secara bahasa berarti perhitungan, keseimbangan dan pembalasan (makna terakhir inilah yang sesuai dalam konteks ini). Kata al-Din dalam ayat ini didahului dengan kata yaum (hari, waktu). Hal ini mengandung makna bahwa pembalasan tersebut akan dilaksanakan pada suatu waktu tertentu yang hanya Allah mengetahuinya.
Jika kita perhatikan ayat 2 sampai dengan ayat 4 surat Al-Fatihah ini terlihat, bahwa Tuhan mendeskripsikan diri-Nya dengan lima macam nama yang sekaligus menjadi sifat-Nya. Kelima nama tersebut adalah: Allâh, Al-Rabb, Al-Rahmân, Al-Rahim, dan Mâliki Yaum al-Din. Sedangkan manusia dalam perjalanan hidupnya melalui tiga fase, yaitu: masa lampau (fase sebelum manusia terlahir ke dunia, belum diciptakan oleh Tuhan), masa sekarang (fase kehidupan di dunia), dan masa yang akan datang (fase kehidupan sesudah mati).
Ketiga fase kehidupan manusia ini sangat erat kaitannya dengan kelima nama Tuhan yang tersebut pada bagian awal surat Al-Fatihah ini. Nama Allâh sebagai Dzat yang Qadim dan Azali* telah menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada. Seperti firman-Nya: وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا
... dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali (Q. S. Maryam/19: 9).
Ketika manusia sudah tercipta (memasuki fase sekarang), maka manusia membutuhkan pemeliharaan dan belas kasihan dari Tuhan. Karena itu, Tuhan menyifati diri-Nya sebagai Rabb al-‘Ālamīn dan Al-Rahmân (yang memelihara seluruh alam dan memiliki sifat belas kasihan secara luas tanpa batas).
Setelah menjalani masa hidupnya, manusia akan mengalami kematian, dan akan memasuki kehidupan di alam akhirat. Dalam kehidupan di alam akhirat, manusia yang mukmin membutuhkan keberlanjutan kasih sayang Tuhan. Karena itulah Tuhan menyifati dirinya sebagai Al-Rahīm (Maha Pengasih dan penyayang secara terus menerus). Hal ini terjadi setelah manusia ditentukan balasan amal baik atau buruknya. Tuhan sebagai Penguasa pada hari pembalasan (Mâliki Yaum al-Dīn) akan memberikan ganjaran kepada manusia yang berbuat baik dengan syurga, dan manusia yang berbuat buruk akan dimasukkan ke dalam neraka (Q.S. Al-Infithar/82: 13 – 14).
إياك نعبد وإياك نستعين :
Hanya kepada Engkau kami mengabdi dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan
Dari ayat kelima ini sampai ayat terakhir surat Al-Fatihah terjadi perubahan penggunaan kata ganti (dhamir) yang menunjukkan Tuhan (Allah). Yaitu perubahan dari bentuk ghaib (kata ganti orang ketiga) pada ayat 1 – 4 ke bentuk mukhathab (kata ganti orang kedua) pada ayat 5 – 7. Perubahan demikian ini dalam bahasa Arab disebut (iltifat) ِاْلِتفَات. Hal ini terjadi karena Allah dengan sifat-sifat-Nya yang disebut pada ayat 1 – 4 sudah cukup memadai untuk membuat Dzat yang ghaib itu dapat dikenal dengan baik oleh manusia. Karena manusia sudah sangat kenal kepada-Nya maka terasa sangat dekat, dan karena kedekatannya itulah maka “Dia” dipanggil dengan "Engkau".
Dari segi redaksionalnya, susunan kalimat ayat ini berbeda dengan susunan redaksi bahasa Arab pada umumnya, yang dalam susunan jumlah fi’liyyah pada umumnya secara berturut-turut terdiri dari fi’l, fâ’il dan maf’ūl bih. Pada ayat ini susunannya mendahulukan maf’ul bih (objek) daripada fi’il dan fa’il (subjek dan predikat)nya. Jika terjadi demikian, maka sesuai dengan kaedah bahasa Arab,
تقديم ما يلزمه التأخير يفيد الحصـر.
(Mendahulukan apa yang semestinya di belakang mengandung makna pembatasan). Karena itu, dalam terjemahan di atas ditambahkan kata "hanya" untuk membatasi lingkup objek. Sehingga kalimat إياك نعبد diterjemahkan “Hanya kepada Engkau kami beribadah”. Maksudnya, kami tidak akan beribadah kepada selain Engkau.
Menurut Ar-Razy, mendahulukan penyebutan obyek ibadah (Engkau/Tuhan) mengandung makna bahwa manusia, sebelum beribadah terhadap sesuatu hendaknya lebih dahulu mengenal secara jelas tentang keberadaan (eksistensi) obyek ibadah yang disembahnya. Hal ini dimaksudkan agar dalam beribadah timbul semangat dan antusiasme yang tinggi, karena Dzat yang disembahnya sudah dikenal dan dirasakan keagungan-Nya. Oleh karena itu, jika seseorang merasa enggan berbuat thaat, malas beribadah (berdiri, ruku’ dan sujud) maka ucapkanlah kalimat إياك نعبد dan resapkan ke dalam hati secara mendalam tentang keagungan dan kemuliaan Dzat yang dijadikan obyek ibadah itu (dalam hal ini Tuhan/Allah), serta sadarilah, bahwa kita adalah hamba-Nya dan Dia adalah Tuhan. Dengan demikian akan muncul semangat dan antusiasme untuk beribadah.
Pengulangan lafazh إياك menunjukkan makna pentingnya "Engkau" sebagai satu-satunya yang dijadikan objek pengabdian dan dimintai pertolongan. Dengan demikian ayat ini mengandung ajaran tauhid 'ubudiyah dan tauhid rububiyah.
نعبد – عبادة : Ketundukan yang muncul atas dasar kesadaran jiwa tentang keagungan Dzat yang ditunduki; disertai keyakinan, bahwa Dia memiliki kekuasaan yang hakekatnya tidak terjangkau oleh pikiran manusia, karena Dia terlalu jauh untuk dijangkau
نستعين :
اهدنا الصراط المستقيم :
Berilah kami petunjuk/hidayah ke jalan yang lurus.
Petunjuk/Hidayah adalah sesuatu yang mengarahkan seseorang untuk mencapai apa yang diharapkan.
Dalam kaitan ini, Allah telah memberikan empat macam petunjuk/hidayah kepada manusia, yaitu:
1. Naluri/bawaan sejak lahir, disebut juga ilham. Seperti kemampuan bayi untuk menyatakan haus melalui tangisannya;
2. Pancaindra, sebagai penyempurna instink. Kedua hidayah ini (naluri dan pancaindra) dimiliki oleh manusia dan hewan; bahkan pada hewan kadangkala hidayah ini lebih sempurna.
3. Akal, hidayah ini hanya dimiliki oleh manusia sebagai potensi untuk dapat hidup bermasyarakat;
4. Agama, hidayah ini diberikan untuk mengarahkan fungsi akal agar tidak dikendalikan oleh nafsu.[4]
الصراط المستقيم : adalah jalan yang lurus (dalam arti majazi)
صراط الذين أنعمت عليهم : Yaitu jalan yang dilalui (ajaran yang diikuti) oleh orang-orang yang mendapat ni'mat. Mereka adalah para nabi, shiddiqin, syuhada' dan sholihin. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
Artinya: Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin (orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya (Q.S.An-Nisa/4: 69).
غير المغضوب عليهم :
Menurut Jumhurul ulama, al-maghdhub ‘alaihim adalah orang Yahudi, dan al-dhaallin adalah orang Nashrani. Pendapat ini didasarkan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud. Namun menurut Qureish Shihab,[5] orang Yahudi adalah contoh orang yang dimurkai Allah, dan orang Nashrani adalah contoh orang yang sesat. Sehingga kalimat ghairil-maghdhubi ‘alaihim dapat ditafsirkan, “Bukan jalan/ajaran yang dipraktekkan oleh orang-orang yang dimurkai Allah, yaitu orang-orang yang sudah menerima kebenaran, namun mereka menolaknya karena fanatik terhadap ajaran nenek-moyangnya.[6] Seperti orang-orang Yahudi”.
و لا الضالين :
Dan bukan pula jalan/ajaran yang dipraktekkan oleh orang-orang yang sesat, yaitu orang yang tidak mengenal kebenaran; baik karena kebenaran itu belum sampai kepada mereka, maupun karena penyampaiannya tidak jelas.
*Pembagian
[1] Isim Musytaq adalah bentuk kata dalam bahasa Arab yang berasal dari akar kata tertentu. Sedangkan Isim Jamid adalah suatu kata yang tidak memiliki asal-usul akar kata.
[2] Dalam bahasa Arab, ال di sini disebut ال تعريف yang mengandung makna للعهد الذهني (sesuatu yang sudah ada di benak)
* Seluruh alam yang memiliki kehidupan pasti membutuhkan perawatan untuk melestarikan kehidupannya. Dalam realita, kehidupan ini terus belangsung. Hal ini menunjukkan adanya suatu Dzat yang merawat dan menjaga kelestarian hidup ini. Dzat itulah Allah.
** Dzat yang memelihara alam semesta ini memiliki sifat-sifat belas kasih dan pengayoman tinggi terhadap apa yang dirawatnya, tanpa pamrih dan tuntutan balas budi. Dia mendidik alam yang dirawatnya (manusia) untuk mandiri dan bertanggungjawab terhadap segala perbuatan yang dilakukan dengan kemauannya sendiri. Sungguh agung dan mulia Perawat yang memiliki sifat demikian. Karena itu, layaklah Dia untuk disanjung dan dipuji atas segala kebaikan-Nya.
*Qadim adalah sesuatu yang ada dan keberadaannya tidak berasal dari sesuatu yang lain, yang berhak dengan sifat ini hanya Allah. Sedangkan Azaliy adalah sesuatu yang ada tidak didahului oleh ketiadaan [Al-Jurjani]. Term ini juga hanya layak dinisbatkan pada Allah.
[1] Ahmad Mushthafa Al-Maraghy, Tafsir Al-Maraghy, Daar al-Fikr,
[2] Rasyid Ridha, Al-Manar, Daar al-Fikr, Caero, Cet. II, Juz I, p. 40
[3] Al-Qurthuby, Juz I, hal. 20
[4] Al-Maraghy, op. cit. p. 24
[5] M. Qureish Shihab, Tafsir al-Mishbah,
[6] Al-Maraghy, Loc. Cit.